Oleh : Agus Anang Fatoni.
Tepat bulan ini, April 2001 (18 Tahun) yang lalu saya bergabung dengan Sekolah Alam Insan Mulia di Kota Surabaya, Jawa Timur. Sebuah sekolah dengan konsep yang tak lazim di masa itu.
Sejatinya, mengetahui Sekolah Alam untuk pertama kalinya adalah sekitar tahun 1998-an saat itu ketika dikos-kosan daerah Ketintang – Kota Surabaya. Saat itu melihat tayangan TV Swasta yang mengupas tentang konsep belajar di Alam dan bersama Alam. Yang ternyata baru saya ketahui tahun 2011 itu kalo Sekolah Alam tersebut adalah Sekolah Alam Ciganjur yang di Gagas oleh Bang Lendo Novo.
Saat itu, karena saya sedang kuliah di IKIP Surabaya yang memang mempersiapkan diri menjadi pendidik. Dengan tayangan itu saya sudah menyatakan Sekolah Alam inilah konsep pendidikan yang pas menurut saya pada saat itu. Sehingga begitu tahu ada Sekolah Alam di Kota Surabaya dibuka.. Saya langsung antusias untuk bergabung dengan Sekolah Alam Insan Mulia.
Jatuh hati saya terhadap konsep belajar di alam dan bersama alam ini sejatinya bukan tanpa sebab. Mengapa??
Karena itu bagian dari memori gaya belajar kami ketika belajar di SMSR. Di SMSR itu joyful learning banget dalam belajar. Tidak terpaku dalam kelas, tidak terbatas media belajar, dan tidak terpaku dalam aturan otoriter pendidikan pada umumnya..
Di SMSR, kalo sedang berkarya/praktek, kami bebas memanfaatkan waktu yang ada. Kedalam kelas boleh membawa makan atau minuman. Boleh dengan mendengarkan musik. Boleh memilih tempat dimanapun disekitar sekolah yang nyaman untuk berkarya. Bahkan kolaborasi dalam berbagi alat berkarya sangat diperbolehkan. Tapi tidak ada kata mau dibantu ketika dalam proses menggambar/berkarya..itu gue banget. Sorry ya…hehehehe. Dan sangat sering juga kegiatan outdoor, mau ke Bonbin, Pasar, atau manapun untuk belajar sketsa… Jadi suasana belajar yang asyik itu sudah saya dapatkan waktu saya SMA/SMSR.. jadi rasa fun dalam belajar itu sudah menyatu dalam raga ini cieee….hehehehe
Dalam hal berkarya kita boleh bersebrangan dengan Guru..asal ada alasan yang kuat.. Bahkan angkatan kami pernah menguji salah satu guru ilustrasi untuk gambar di papan yang membuat guru itu sampai menangis…hehehehe tapi Tauladan beliau Guru kami dalam berusaha untuk berbenah diri latihan menggambar dibuktikan.. Hingga akhirnya kamipun mengakui hasil karya beliau semakin hebat. Hubungan siswa dengan guru seperti partner, teman dan kadang rival dalam berkarya.. Dan guru – guru hebat kami yg selalu membuat alat peraga, baik sebelum atau bersamaan ketika menjelaskan itulah yang membuat kami jatuh hati dengan hubungan antara Guru dan Siswa.
Dan kebebasan dalam belajar ini keterusan di Seni Rupa IKIP Surabaya. Kami kuliah dalam kelas.. Kadang ditepi lapangan Tenis, Panggung, Taman dan sebagainya. Wes talah Ngalam banget…
Dan gaya ini keranjingan saya bawa ketika untuk pertama kalinya saya mengajar disalah satu SD Swasta milik Yayasan Militer (Hangtuah) tahun 1996.. Saat itu saya sudah minta ijin kepada Kepala Sekolah, bahwa proses belajar saat jam mengajar saya supaya diperkenankan menggunakan seluruh area sekolah. Siswa boleh bawa minum kedalam kelas dan boleh rame…hehehehe meskipun kemudian saya ditegur oleh guru lain karena mengganggu kelas lain. Tapi pada prinsipnya ijin tetap diberikan pada saya tidak harus menggunakan kelas ketika jam mengajar saya. Sippp Kan.. Dan saya satu – satunya di Yayasan tersebut saat itu yang diijinkan Gondrong ketika mengajar…
Jiwa bebas dan melibatkan semua media lingkungan untuk belajar itulah yang membuat saya keranjingan belajar di alam dan bersama Alam.. Atau bisa dikatakan ibarat tubuh, Sekolah Alam Akhirnya mendarah daging di nadiku.
Sementara itu dalam perjalanan waktu, memang ada beberapa hal yang perlu dipersiapkan dalam mengembangkan proses pendidikan model Sekolah Alam ini. Salah satu hal yang sangat perlu dipertimbangkan adalah perubahan lingkungan itu sendiri, karena Lingkungan/Alam ini yang memiliki bagian penting dalam proses pembentukan tatanan manusianya. Karena teori/sistem pendekatan dalam proses pendidikan sangat dipengaruhi oleh hal ini.
Saya sangat ingat betul ketika berdiskusi dengan Prof. Mukhlas Samani, selaku konseptor Sekolah Alam. Saat itu beliau menyampaikan.. “Janganlah kita terlalu kaku dengan satu sistem/pola dalam proses pendidikan, karena perubahan itu pasti terjadi dan kita juga harus berubah juga mengikuti lingkungan”.
Kemudian saya coba bertanya, “Sistem/Model pendidikan Sekolah Alam ini sampai Kapan relevan dipakai untuk menyiapkan Generasi bangsa ini?”. Beliau menyampaikan, Model begini (Sekolah Alam) yang saat ini (Tahun 2004) masih relevan untuk 10 – 20 tahun kedepan. Namun Sekolah Alam memiliki fleksibilitas untuk bisa mengikuti perkembangan.
“Berarti kita harus menyiapkan konsep yang baru dong Prof?”.
Ya Jelas… Intinya kan Pendidikan itu (Tingkat SD) adalah menyiapkan anak untuk menghadapi era 20 tahun kedepan masa depannya. Kita mesti bisa membayangkan bagaimana sih lingkungan 20 tahun kedepan itu? Jangan sampai apa yang kita ajarkan adalah masa lampau..yang nanti gak terpakai dimasa mereka…tidak mengganti secara penuh…tetapi kita harus terus berinovasi dalam mengembangkan proses pendidikan itu. Berinovasi itu bukan menghadirkan sesuatu yang baru-ru.. Tapi menambah, melengkapi dan menyesuaikan kebutuhan itu juga merupakan sebuah bentuk inovasi.
Nah disinilah Konsep belajar dari Alamnya itu yang membuat saya pribadi sangat yakin karena kita selalu melihat kondisi lingkungan masyarakat sebagai bagian dari proses edukasinya..maka Sekolah Alam seharusnya menyesuaikan diri dengan kebutuhan yg berkembang di dunia ini…
Sebagai ilustrasi.. Dulu untuk bisa mendirikan usaha transportasi umum.. Kita butuh kantor, butuh armada mobil dan sebagainya. Ternyata saat ini, kita hanya butuh menyiapkan aplikasi saja, kita bisa menciptakan perusahaan transportasi umum dengan jumlah ribuan armada tanpa harus memiliki armada sendiri. Nah..20 tahun kedepan, apalagi perubahan industri/lingkungan anak – anak kita?
Kalau dulu, untuk mencari pekerjaan…kita keluar masuk kantor/perusahaan, bawa surat lamaran, dilengkapi dengan daftar riwayat hidup yang isinya ijazah, Surat keterangan, Sertifikat pelatihan, dan lain – lain..
Perlu waktu berhari – hari bahkan berbulan – bulan untuk bisa memasukki satu buah kantor. Dan diujung pintu kadang terucap…. “MAAF BELUM ADA LOWONGAN” adalah kalimat password dari para satpam perusahaan. Hehehehe
Namun saat ini, tidak peduli berapa usia kita, masih sekolah atau lulusan dari mana! yang penting kita punya portofolio kecakapan bidang tertentu. Kita dokumentasikan dengan baik, cukup kita upload pada situs tertentu… Ratusan perusahaan akan melirik kita, bahkan tak jarang kemudian mereka akan memberikan pekerjaan, dan kita gak harus datang bertatap muka langsung dengan pimpinannya, tak perlu masuk kantor mereka. Cukup menekan tombol kesepakatan, Kita bisa kerjakan itu dirumah kita sendiri, dengan deadline waktu yang disepakati pekerjaan beres dan gajipun tertransfer ke rekening kita.
Atau kalo dulu untuk eksis di TV, kita harus bayar stasiun TV yg iklan saja 15 detik bisa sampai puluhan juta rupiah. Kini untuk menyajikan apa yang kita miliki, cukup buat channel youtube..upload apa yang kita punya… Biarkan public yang menilai semakin kreatif kita… Banyak yang melihat, pundi – pundi uangpun akan mengalir dengan sendirinya…
Demikian pesatnya kemajuan tehnologi dan peradaban, perubahan tatanan hidup manusia, bagaimana kemudian kita menyiapkan diri… Apakah kita akan berkutat dengan teks book, teori – teori lama yang menjauhkan diri dari lingkungan agar tidak tercemari atau kita ikut dan menguasai lingkungan kita???
Lalu bagaimana sekolah menyiapkan generasi bangsa ini??
Muncul juga pertanyaan bagaimana sekolah alam menyiapkan itu? Seberapa yakin generasi Sekolah Alam mampu menyambut dan menghadapi perubahan itu?
Sekolah Alam itu unik… Berfikir atas landasan ayat Al-Qur’an dan ayat Kauniyah sang pencipta. Ayat – ayat yang terhampar begitu luas, bagaikan literasi yang tak terbatas.. Bukankah hukum alam telah menasbihkan, siapa yang peka atas kondisi lingkungannya, memahaminya, dan kemudian merajutnya menjadi gagasan – gagasan yang dapat melebur dengan lingkungannya. Merekalah yang akan mampu menguasai dunia..
Sekolah Alam melakukan itu. Belajar di Alam bukan untuk menaklukkan Alam, belajar di Alam agar dia mampu menguasai dirinya dan mampu bertahan dan berkembang di Alam ini.
Di Sekolah Alam belajar didalam maupun diluar ruangan. Itu bukan untuk sekedar gaya – gayaan. Dengan model belajar in out ini, sejatinya mereka sedang mengoptimalkan seluruh panca indra yang dikaruniakan Allah pada setiap hamba-Nya. Sehingga mereka yang peka dengan indra penciuman dan perabanya, maka ia akan dapat belajar banyak ketika harus bersentuhan langsung dengan apa yang diluar dirinya.. Bagi yang peka terhadap auditori dan visualnya.. Mungkin mereka bisa konsentrasi belajar didalam ruangan. Dengan membaca dan mendengarkan guru bercerita.
Dengan proses belajar didalam dan diluar ruangan ini, mereka tidak hanya membahas tentang teori – teorinya saja..namun mereka akan bersentuhan secara langsung dengan permasalahan yang ada.
Dengan belajar seperti ini, mereka akan mengetahui bahwa setiap tempat memiliki ketentuan – ketentuan yang berbeda… Ketika di pasar, bagaimana atitute kita, bagaimana metode transaksi yang harus dijalankan. Tentu berbeda ketika kita berbelanja di supermarket ataupun online market..
Ketika berada di pantai, tentu beda disiplin pengetahuannya dengan ketika dia berada dihutan atau digunung. Ada perencanaan yang berbeda, ada strategi yang berbeda, ada perbekalan yang berbeda dan juga ada aturan – aturan yang berbeda… Mereka harus peka dan memahami disetiap kondisi yang berbeda. Mereka harus patuh, mereka harus hormati atas apa yang menjadi aturan dari tempat yang berbeda – beda… Sehingga tercipta pada diri mereka kepekaan sosial yang tinggi terhadap lingkungan sosial dan hidup mereka.. Mereka mesti memahami itu semua agar bisa survive dalam hidupnya.
Di Sekolah Alam membiasakan pada diri anak, untuk berfikir realistis, kritis, kreatif, inovatif dan juga tidak melupakan kekuatan Allah adalah diatas segala galanya…
Tentu tidak semua lingkungan sekitar kita itu sevisi dengan kita.. Ada toleransi yang mesti kita junjung dalam berkehidupan bersama ini…bagaimana Sekolah Alam menyikapinya.. Bagaimana mensinkronkan dengan regulasi pemerintah yang ada.. Dan bla bla bla….
Bersambung..
Penulis : Founder and Director Sekolah Alam Surabaya SABAYA Talent – Based School.