Oleh : M. Riadus Sholihin
Geger, E-nya dibaca e pada kata ‘tempat’ bukan E pada kata ‘tempe’. Ia nama sebuah Desa. ikut Kecamatan Kedungadem Kabupaten Bojonegoro. Di situ terdapat sebuah Pondok Pesantren. Pondok Pesantren Alhamdulillaah, namanya.
Didirikan 20 tahun lalu oleh seorang perempuan, Bunyai Dewi, (Dyah Ayu Ratna Dewi, lengkapnya) Alumni PPSD. Seangkatan dengan Allah Yarham Gus An. Dan di situlah tempat Rapat Kerja II PC Pessandra Bojonegoro digelar. Dan alhamdulillah, saya bisa datang ke kegiatan tersebut, Ahad 20 Maret 2022.
Melalui panduan google map saya meluncur ke sana. Berangkat pukul 09.30 wib. Padahal di undangannya, acara dimulai pukul 09.00 wib. Kemudian pukul 12.30 wib kira2, saya sampai juga di lokasi. Dari Paciran ke Geger berjarak 84 km. Setelah saya chek di google map.
Untuk sampai ke sana, saya dipandu google map, tentu saja. Diarahkan melewati pertigaan pasar Sumberejo-Bojonegoro ke selatan. Yang saya kira akan diarahkan lewat pertigaan Wates. Dari pertigaan Sumberejo ke selatan itu ternyata masih jauh. Untung jalannya mulus. Jadi tetap santai saja. Dengan sering mbatin kok tidak sampai2.
Sesampai di lokasi, kepada Obeh Ubaidillah, Ketua PC Pessandra Bojonegoro saya bilang, “ternyata jauh, ya. Sumberejo ke sini.” Tentu saja dengan bahasa jawa. “Nemen to. Podo karo Sumberrejo balik ke Babat leh..” Jawabnya dengan logat jonegoroannya.
Kembali ke Pondok Pesantren Alhamdulillah. Saat sambutan memberi motivasi kepada pengurus PC Pessandra Bojonegoro, Bunyai menceritakan jatuh bangunnya membangun pondok ini. Dan cerita inilah yang ingin saya jadikan pesan utama tulisan ini. Dan berharap memetik hikmah darinya.
Setiap pohon besar dan menjulang tinggi, pastilah sering diterpa angin yang kencang. Untuk tetap berdiri kokoh, si pohon harus mempunyai akar yang kuat menghujam dalam ke tanah. Begitu juga dengan Pondok Pesantren Alhamdulillaah ini.
Mengawali ceritanya, bunyai mengatakan, untuk acara ini ia sengaja mengosongkan jadwalnya. Dari kegiatan rutinan muslimat maupun ngisi pengajian lainnya. Bunyai beranggapan, Pessandra adalah juga gurunya. Sebagaimana Romoyai Abdul Ghofur. Jika seorang guru bertamu, sebagai murid, tak pantas tidak menyambutnya.
Bunyai melanjutkan ceritanya. Pondok ini pernah mengalami kebakaran. Hingga bangunannya yang waktu itu mayoritas masih dari bahan kayu dan bilah bambu, dengan mudah habis tak bersisa, kecuali hamparan abu yang rata dengan tanah.
Setelah kejadian itu. Bunyai sowan Romoyai Abdul Ghofur. Sebagaimana saat awal mau mendirikan pondok ini. Kepadanya, Romoyai ngendikan. Mau jadi besar pondokmu. Sudah. Dibangun lagi.
Mendengar itu, bunyai dewi hanya bisa mengucapkan Amin dan sam’an wathoatan. Karena dia yakin semua ucapan Romoyai adalah doa. Yang kadang menurutnya tidak masuk akal sekalipun. Seperti mampu membangun kembali pondoknya itu setelah habis terbakar.
Suatu ketika saat sowan, bunyai disuruh Romoyai untuk hutang bank. Sesampai di rumah tiba2 banyak sekali orang dari berbagai bank datang menawari pinjaman. Yang sebelumnya tidak pernah sama sekali terjadi.
Setelah kejadian itu, pernah juga, bunyai dilarang hutang bank. Seketika itu juga, saat membutuhkan, susahnya bukan main. Mungkin karena memang tidak boleh hutang tadi, katanya.
Singkat cerita Pondok Pesantren Alhamdulillah ini terus berbenah. Bangunan permanen dari beton mulai berdiri di sana-sini. Demikian juga lembaga pendidikan formalnya: MTs dan MA yang terletak di luar area pondok.
Secara khusus bunyai juga berbagi banyak cerita tentang Romoyai Abdul Ghofur. Yang menurutnya, pondok ini berdiri sampai sejauh ini pun semata berkat barokah Romoyai.
Bagaimana tidak. Hampir segala hal yang berkaitan dengan pondok ini seluruhnya adalah hasil petunjuk Romoyai. Hingga sering sekali, di tengah ketidak berdayaan dan hampir putus asa ia sowan. Kadang kepanghihan Romoyai kadang tidak. Tidak masalah. Jika tidak kepanggihan, bunyai cukup duduk sejenak di ruang tamu, minum air suguhan berserta ngemil jajanannya. Lalu balik pulang.
Dari pisowanan itulah sering tumbuh kekuatan batin yang menguatkan langkahnya. Sebagaimana nama pondoknya itu: Alhamdulillah..
Penulis Adalah : Sekjen PP Pessandra