Oleh : Sabella Arjana Fasari
Manusia pasti memiliki masalah, cobaan, dan ujian. Semua yang dialami manusia tidak luput dari perbuatan yang dilakukan, entah itu benar atau salah. Dari perbuatan yang dilakukan pasti ada penyesalan dan kenikmatan yang didapatkan. Hal itulah yang membuat naluri manusia untuk selalu senantiasa bermunajat kepada Tuhan.
Di bawah ini terpaparkan apresiasi puisi tentang hamba yang bermunajat kepada Tuhan, pada dua puisi yang judulnya sama tetapi berbeda nama pengarangnya. Yaitu puisi do’a karya Chairil Anwar, dan puisi do’a karya Amir Hamzah.
Doa
Karya Chairil Anwar
Tuhanku
dalam termangu
aku masih menyebut namaMu
biar susah sungguh
mengingat Kau penuh seluruh
cahayaMu panas suci
tinggal kerdip lilin di kelam sunyi
Tuhanku
aku hilang bentuk
remuk
Tuhanku
aku mengembara di negeri asing
Tuhanku
di pintuMu aku mengetuk
aku tidak bisa berpaling.
Menurut penulis, puisi do’a karya Chairil Anwar tersebut dapat dimaknai tentang seorang hamba yang mengalami krisis keimanan akibat kesalahan yang dilakukan. Meyakini bahwa tidak ada jalan lain baginya kecuali ke jalan Tuhan. Berharap begitu lebih dan berupaya untuk mendapatkan apa yang diinginkan dan diperintahkan kepada Tuhan.
Juga mencoba mengakui kesalahan yang pernah dilakukan, serta bermunajat dengan segala bentuk keikhlasan hati dan pikiran untuk senantiasa mengingat Tuhan agar mau memberikan jawaban terhadap segala apa yang dipinta.
Mengingat nama Tuhan, bahkan selalu berada di dekatnya tidak mudah untuk dilakukan. Sedangkan tokoh Aku yang senantiasa lebih sibuk dengan dunianya daripada mementingan kewajiban untuk dekat kepada Tuhan. Menancapkan jiwa untuk mengingat Tuhan hanya sekelumit dan tidak diingat secara keseluruhan karena kesibukan terhadap dunia yang telah dinomorsatukan.
Pembaca seakan ikut terlibat di dalam isi puisi untuk merenungkan diri atas dosa – dosa yang telah dilakukan, dan merasa yakin bahwa hanya kepada Tuhan semua kesalahan yang dilakukan bisa diampuni, serta jika mengukuti perintah Tuhan akan selamat dunia dan akhirat.
Pinta yang dilakukan oleh hamba begitu terlihat pada kutipan puisi yang menggambarkan bahwa hidupnya tidak seterang dan terpancar kegiatan yang berguna selama hidupnya kemarin, berbeda dengan sekarang yang hidupnya suram, gelap serta tanpa arah adanya Tuhan yang tidak mau lagi bersama dengan hambanya akibat perbuatan yang dilakukan keliru.
Dari kesalahan yang dilakukan telah membuat diri “Aku” menjadi hamba yang tidak pantas lagi hidup di dunia, karena terlalu banyak kesalahan dan dosa yang dilakukan. Tokoh Aku serasa kehilangan bentuk rupa dan remuk sebagai wujud rasa malu terhadap Tuhan akibat dosa yang ditanggung sehingga tidak mampu untuk diampuni oleh Tuhan.
Pembaca menginterpretasikan bahwa selama kesalahan yang dilakukan mengakibatkan kehilangan arah dan pijakan selama hidup. Tidak ada yang berguna seperti orang kehilangan arah dan tujuan untuk menjalani hidup.
Diksi yang dipakai yaitu pintu dan mengetuk tergambar jelas bahwa tokoh Aku memohon ampun kepada Tuhan untuk diampuni segala kesalahan dan dosa yang teramat banyak.
Pemakaian diksi yang dipakai oleh pengarang memberikan penguatan kata yang lebih halus dan terkesan indah, sebab pembaca akan memaknainya sebagai bentuk adanya pintu taubat kepada umat yang melakukan kesalahan akibat tidak sesuai dengan perintah yang Tuhan berikan kepada umatnya.
Dalam setiap waktu, tokoh Aku selalu menyebut nama Tuhan untuk diberi perlindungan agar terhindar dari kejahatan kehidupan dunia yang dinilai kelam.
Nimat dari sinarnya Tuhan terpancar jelas, namun di balik sinar yang menyala terang terdapat maksud tersendiri untuk hamba yang tidak menjalankan kewajiban yang telah disepakati bersama. Nikmat Tuhan adalah suci dan tidak ternoda oleh apapun karena Tuhan adalah maha Agung dan bijaksana.
Selanjutnya adalah puisi yang kedua.
Do’a
karya Amir Hamzah
Dengan apakah kubandingkan pertemuan kita, kekasihku?
Dengan senja samar sepoi, pada masa purnama meningkat naik,
setelah menghalaukan panas terik.
Angin malam mengembus lemah, menyejuk badan, melambung
rasa menayang pikir, membawa angan kebawah kursimu.
Hatiku terang menerima katamu, bagai bintang memasang lilinnya.
Kalbuku terbuka menunggu kasihmu, bagai sedap-malam menyirak kelopak.
Aduh, kekasihku, isi hatiku dengan katamu, penuhi dadaku dengan
cahayamu, biar bersinar mataku sendu, biar berbinar gelakku rayu!
Menurut penulis, puisi kedua do’a karya Amir Hamzah dapat dimaknai tentang seseorang yang disebut “Aku” yang mempunyai kasih sayang lebih dan juga memiliki hubungan yang dekat dengan tuhan yang sudah dianggap sebagai kekasihnya sendiri.
Diksi yang digunakan oleh penyair memberikan kesan yang menarik dan menggugah pembaca karena menggunakan kata kekasih yang identik dengan nuansa romantisme.
Kata kekasihku sebagai simbol dari orang yang dicintai oleh tokoh Aku di dalam puisi ini. Kekasih yang senantiasa datang setiap waktu untuk selalu memantau umatnya agar tidak tersesat di jalan yang keliru.
Kekasih yang begitu sempurna sehingga tidak mampu dibandingkan dengan keindahan alam yang tecipta di dunia. Pertemuan yang sangat ditunggu-tunggu oleh setiap hamba agar selalu dekat terhadap kekasihnya yaitu Tuhan.
Tokoh Aku terlihat memuja-muja dan mengungkapkan seberapa besar rasa cintanya untuk Tuhannya yang telah membuat dirinya tenang, tidak merasa sendirian, dan membuatnya merasa beruntung dan sangat bersyukur telah menemukan tuhan yang dalam pandangannya sangat menyayanginya.
Tuhan begitu agung dan tinggi sehingga mampu memberikan kedamaian dan ketentraman kepada hambanya khususnya kepada Aku. Terlihat bahwa jika dekat dengan Tuhan, maka akan menyejukkan badan. Yaitu maksudnya adalah memberikan ketenangan dalam pikiran serta mensucikan diri yang hina. Setelah dapat menyegarkan badan juga dapat memberikan kedudukan yang lebih tinggi daripada hamba yang tidak begitu dekat dengan Tuhan.
Hati dari setiap umat manusia terasa damai ketika mengagungkan do’a – do’a yang dipanjatkan, sehingga didalam kehidupan ada cahaya kalam – kalam yang selalu mewarnai setiap harinya agar tidak tersesat ke dalam lubang yang salah, lantunan-lantunan do’a yang dipanjatkan untuk Tuhan seraya menunggu adanya jawaban yang dinanti – nanti oleh setiap umat yaitu “Aku” dan perumpaan itu digambarkan sebagai wujud bentuk mengagungkan Tuhan yang senantiasa menempatkan Tuhan sebagai nomor yang pertama. Yaitu sebagai kekasih sehingga mendapatkan balasan yang setimpal yaitu berupa kebaikan dari Tuhan.
Harapan yang terpancarkan pada tokoh Aku senantiasa untuk berada pada pelukan kasih dan tidak ingin lepas dari kekasihnya yaitu Tuhan. Tokoh Aku yang ada di dalam puisi senantiasa untuk selalu diberikan nikmat dan cahaya yaitu warna di dalam kehidupan di dunia. Yaitu berupa kebenaran dan keagungan agar berada pada lindunganNya yaitu Tuhan.
Kehidupan yang dilakukan oleh tokoh Aku ingin selalu bersinar terhadap cahaya yang diberikan oleh Tuhan. Seolah – olah tokoh Aku tidak bisa hidup tanpa seorang kekasih yaitu Tuhan. Kehidupan yang dijalani serasa ingin memperoleh kesempurnaan yang diberikan oleh Tuhan, dan tidak ingin cacat sedikitpun terhadap Tuhan, sebab dengan menjadi umat yang sempurna akan membedakan posisi antara umat yang dekat dan tidak dekat dengan Tuhan.
Dari kedua puisi tersebut terlihat jelas ada persamaan dan perbedaan yang ditulis dari pengarang, jika gaya kepenulisan Chairil Anwar yaitu lebih kepada tokoh Aku yang merenungi krisis iman akibat kesalahan yang dilakukan selama di dunia sehingga meminta ampunan dari Tuhan.
Sementara gaya kepenulisan puisi Amir Hamzah yaitu tokoh Aku yang senantiasa ingin selalu dekat kepada kekasihnya yaitu Tuhan dalam waktu kapanpun dan dimanapun kondisinya.
Persamaan yang terlihat jelas adalah bahwa setiap hamba pasti membutuhkan Tuhan, entah sebagai kekasih atau zat yang mampu menolong. Bantuan dan pertolongan dari Tuhan senantiasa dipinta oleh setiap manusia yang percaya terhadap Tuhan, tidak hanya itu saja, mengagungkan dan berharap kepada Tuhan adalah bentuk kebutuhan manusia yang wajib untuk selalu dilekatkan di dalam hati dan pikiran manusia. Bahkan hal itu adalah kebutuhan primer yang tidak bisa diganti oleh apapun.
Penulis Adalah : Mahasiswa Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia – FKIP Universitas Muhammadiyah Malang.