Minggu, April 6, 2025
Google search engine
BerandaEventSaatnya Geopark Nasional Bojonegoro Diakui UNESCO, Setelah Batik Jonegoroan Go Intenasional

Saatnya Geopark Nasional Bojonegoro Diakui UNESCO, Setelah Batik Jonegoroan Go Intenasional

Suaraairlangga.com, Yogyakarta – Bertempat di Lotus Ballroom Hotel Grand Aston Jogjakarta, Jum’at (25/05/2018). Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kabupaten Bojonegoro bersama House of Martini Suarsa mengadakan acara Java Visit For Batik and Tourism of Bojonegoro Collaboration Culture BWI (Blue and White Internasional) Qipao Pageant 2018 – October 2018 Bojonegoro Petroleum Park.

Acara yang berisi penandatanganan MoU antara Disbudpar Kabupaten Bojonegoro dengan BWI dan House of Martini Suarsa, serta peragaan busana para desaigner ini, untuk mengembangkan budaya dan hasil kerajinan masyarakat Bojonegoro ke kancah Dunia. Selain itu, untuk kolaborasi antara dua budaya yaitu budaya Indonesia dan Cina.

Martini Suarsa, selaku Founder House of Martini Suarsa menyampaikan, meskipun dirinya bukan lagi warga Bojonegoro. Namun dirinya ingin sekali bisa memberikan kontribusinya kepada Bojonegoro, yang diantaranya mengenalkan Batik Bojonegoro ke kancah Internasional.

“Izinkanlah saya berkontribusi untuk Bojonegoro, yakni dengan mengenalkan Batik Bojonegoro ke kancah Internasional. Sehingga batik Bojonegoro tidak hanya dikenal di dalam negeri, namun juga dikenal mancanegara,” ucap Martini Suarsa dalam sambutannya.

Ditambahkannya, upaya mengenalkan Batik Bojonegoro ke mancanegara, juga akan diwujudkan dalam acara Qipao Pageant di Singapura. Dimana acara itu hasil kerjasama Disbudpar Kabupaten Bojonegoro dengan BWI dan House of Martini Suarsa, yang akan diselenggarakan selama 7 hari pada bulan oktober 2018.

“Sebagai upaya untuk membuka pintu bagi anak – anak Bojonegoro yang ingin bersaing dalam pasar global, rencananya kita dengan BWI akan mengadakan acara Qipao Pageant di Singapura, pada bulan oktober 2018. Dan nanti pada acara tersebut kita akan berkolaborasi dengan Cina dalam mempromosikan pariwisata serta budaya masing – masing Negara,” ungkap Martini Suarsa penuh semangat.

Foto : Peragaan busana para desaigner dalam acara ‘Java Visit For Batik and Tourism of Bojonegoro Collaboration Culture BWI (Blue and White Internasional) Qipao Pageant 2018 – October 2018 Bojonegoro Petroleum Park’, di Lotus Ballroom Hotel Grand Aston Jogjakarta, Jum’at (25/05/2018)

Sementara itu, Miss Ada Goh, selaku Founder BWI menyampaikan, bahwa kegiatan ini sangat positif untuk dilakukan. Karena bisa menambah serta meningkatkan produktifitas diantara kedua belah pihak.

“Kami berharap nanti kedepan, kita bisa saling terus mendukung dalam memajukan kebudayaan masing – masing. Selain itu acara ini bisa mendorong kreativitas masyarakat dalam berkreasi,” tutur Miss Ada Goh.

Masih dalam kesempatan ini, Pj. Bupati Bojonegoro, DR. H. Suprianto mengapresiasi acara tersebut. Dan dirinya berharap selain Batik, potensi warisan Geopark Nasional Bojonegoro seluas 2384,02 m persegi, seperti ada “The Little Texas Wonocolo” dan Kayangan Api, serta Geosite lainnya dapat diakui UNESCO.

Lebih lanjut dijelaskannya, Bojonegoro ini tidak punya gunung dan lautan, namun Bojonegoro memiliki warisan Geopark yang terbesar dimana luasnya mencapai 2384,02 m persegi. Adapun salah satu Geopark Nasional Bojonegoro dari 7 Geosite yang masuk masuk Kawasan Cagar Alam Geologi (KCAG), yakni “The Little Texas Wonocolo”, dan Kayangan Api yang keindahannya bisa kita nikmati sampai saat ini, serta Geosite lainnya.

“Terkait Geopark, kita tentu saja punya harapan yang lebih besar terhadap pengakuan UNESCO untuk Geopark Nasional Bojonegoro ini. Sehingga kedepannya Bojonegoro tidak hanya dikenal didalam negeri, namun juga dapat dikenal sampai mancanegara,” harapnya.

Disampaikannya pula, dengan adanya kerjasama pariwisata dan budaya yang bertema Geopark Nasional Bojonegoro tersebut, merupakan peluang baik agar wisata bojonegoro bisa dikenal masyarakat dunia.

“Selain peluang pariwisata dan budaya, Kita berharap Geopark Nasional Bojonegoro ini bisa menjadi pusat pengembangan ilmu pengetahuan, dan perlindungan konservasi eksposur batu / fosil / bentang alam menuju UNESCO Global Geopark Network (GGN),” tandasnya.

Foto : Penandatanganan MoU antara Kadisbudpar Bojonegoro, Amir Syahid dengan Founder House of Martini Suarsa, dan Founder BWI, Miss Ada Goh, di Lotus Ballroom Hotel Grand Aston Jogjakarta, Jum’at (25/05/2018).

Selain itu, lanjut Pj. Bupati Bojonegoro menyampaikan, Bojonegoro juga memiliki budaya lokal Suku Samin, yang budayanya dinamakan Budaya Samin. Dimana mereka hidup dengan menjalankan nilai – nilai kejujuran, keluhuran serta kesederhanaan. Hal tersebut tentu dapat menarik masyarakat untuk belajar bagaimana hidup bersahaja.

“Keterlibatan  masyarakat setempat seperti POKDARWIS (kelompok Sadar Wisata), ASIDEWI (Asosiasi Desa Wisata), serta kelompok pengelola wisata lainnya merupakan hal yang harus terus ditingkatkan agar keberadaan destinasi wisata Bojonegoro semakin berkembang,” imbuh Pj. Bupati Bojonegoro, DR. H. Suprianto.

Penting diketahui, pada acara tersebut tampak dihadiri Kanjeng Raden Tumenggung Gondohadiningrat perwakilan dari Keraton Yogyakarta, dan Jajaran Akademisi UGM juga UPN Veteran Jogjakarta, Duta Wisata Dimas Diajeng DIY, Tim Asosiasi Desa Wisata, serta Para Designer.

Selain itu, hadir pula Jajaran Pemkab Bojonegoro yakni Asisten Bidang Pemerintahan dan Kesra, Asisten Bidang Perekonomian, Kepala Disbudpar, Kepala Dinperinaker, Kepala OPD dilingkup Pemkab Bojonegoro, dan Duta Wisata Kange Yune, Tim Seni dan Budaya Bojonegoro, serta Perajin Bojonegoro. *[JP]

BERITA TERKAIT

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

- Advertisment -
Google search engine

TERPOPULER

KOMENTAR