Oleh : Gus Glory Muchtar
Meski mungkin sudah sekian puluh tahun yang lalu, tapi rasanya baru kemarin saya melihat wanita itu menggendong dan merawat anaknya yang masih balita. Mungkin saya yang jarang ketemu, jadi agak heran ketika ibu itu kembali menggendong bayi. Namun ditengah keramahan obrolan khas wong ndeso seperti kami, baru kemudian saya tahu yang digendong itu cucunya.
Ya, waktu berjalan cepat. Anak yang sekian puluh tahun lalu digendong itu kini sudah jadi ibu muda. Dia sedang bekerja di pabrik rokok. Jenis profesi yang beberapa tahun ini menjadi magnet ibu – ibu muda meninggalkan tangungjawab domestiknya untuk berebut rupiah tambahan.
Fenomena yang kurang lebih sama juga jamak kita saksikan di keluarga para TKW. Banyak dari mereka yang demi dollar, ringgit dan riyal, rela meninggalkan negeri untuk mengais kesempatan meningkatakan taraf ekonominya. Pandangan nelangsa anak kecilnya yang membutuhkan kasih sayang dan kehadiran seorang ibu, masih kalah oleh kibasan lembar petro dollar.
Ada pemikiran keliru yang dibiasakan; toh, masih ada neneknya yang bisa dititipi merawat anak. Ada justifikasi yang dipaksakan; toh ini demi kesejahteraan anak – anak juga. Tetapi mereka lupa bahwa anak tidak hanya perlu materi tapi juga butuh kehadiran dan kasih sayang. Para ibu muda itu lupa bahwa ibunya (neneknya) tak seharusnya menanggung beban di usia tua setelah dulu berpuluh tahun tanpa henti merawat mereka.
Selentingan saya dengar ibu muda pekerja pabrik yang menugasi ibunya merawat bayinya itu memberi imbalan beberapa ratus ribu sebulan. Beberapa TKW juga mengirimkan kebutuhan anaknya lewat ibunya. Entah bagaimana jalan pemikiran yang mereka tempuh. Merasa berhak memberi beban tugas ibunya hanya dengan imbalan beberapa lembar rupiah.
Padahal tanpa beban tambahanpun, beberapa ratus ribu rupiah itu tidak akan pernah bisa membalas apa yang telah seorang ibu berikan padanya sejak mengandung sampai membesarkan dan menginjak usia dewasa.
Bahkan lebih miris saat saya sering lihat si ibu muda kini kerap membentak ibunya. Padahal berkata “ah” saja dilarang Tuhan. Mungkin kemandirian finansial membuat dia merasa berhak memposisikan diri sebagai atasan dan ibunya bawahan.
Kita memang sering lupa bahwa tiap diri manusia saat menginjak usia dewasa dan berumah tangga, dia akan segera punya dua tanggungjawab; merawat anaknya dan merawat orantuanya. Ya, bukan hanya anakmu yang membutuhkan perhatianmu tapi juga orangtuamu.
Terlebih jika mereka sudah memasuki masa senja. Menurunnya kemampuan fisik atau mungkin finansial orang tua kita, memanggil tanggungjawab kita sebagai anak secara otomatis untuk dengan ikhlas sukarela semangat riang gembira merawat mereka, diminta atau tidak.
Demikianlah Tuhan memberi arahan bagaimana cara terbaik kita membalas air susu ibu, dan tetesan keringat ayah saat dulu membesarkan kita sejak tak punya apa – apa dan tidak bisa apa – apa, sampai kita mampu menaklukkan dunia lalu memiliki segalanya.
Wahai suami, lihatlah repot ribet namun ikhlasnya istrimu saat mengandung janin anakmu sembilan bulan, lalu bertaruh nyawa melahirkan dilanjut menyusui anakmu. Memandikan, menceboki dan mengganti popoknya di tengah malam. Seperti itu pula dulu ibumu memperlakukanmu.
Kini, pernahkah kamu menggendong ibumu? Pernahkah di tengah kesibukanmu lalu datang berkunjung sekedar memijit kaki dan punggung ayahmu? Seperti itulah ayahmu yang kerap menunda keinginannya demi membelikan sesuatu keinginanmu.
Wahai istri atau ibu muda, rabalah hatimu bagaimana perasaanmu pada anak anakmu. Pernahkah kamu merasa bosan melayani rewelnya anakmu. Pernahkah kamu menghitung berapa air susu yang kau alirkan ke mulut anakmu? Maka begitulah dulu ibumu kepadamu. Tak pernah menghitung berapa liter darah yang tertumpah saat mengejan melahirkanmu.
Dulur, sejak bayi kita dirawat, diguyur kasih sayang, dididik dan dibesarkan. Diantarkan sampai gerbang mandiri dan kedewasaan. Demi semua itu, ayah banting tulang siang malam. Demi itu ibu menyabung nyawa mengabaikan rasa lelah dan menuangkan segala doa dan asa.
Sudah selayaknya saat mereka tua, kita suguhkan kesempatan untuk istirahat. Menikmati masa senja dengan berita gembira. Bahwa kita sudah bahagia. Di mana nurani kita tega membebani mereka dengan tugas – tugas yang seharusnya itu merupakan kewajiban utama kita, di saat seharusnya kitalah yang membalas melayani mereka. Pastikan orangtua tenang di sisa umurnya dengan kita yang senantiasa menampilkan wajah tegar, suasana segar dan senyum lebar penuh asa berbinar.
Bahkan seandainyapun kita belum sukses materi dunia, “berpura puralah” bahwa kita sudah bahagia. Seberat apapun masalah kita, tahanlah untuk tidak berkeluh kesah di hadapan mereka. Jikapun harus bercerita, sampaikan dengan biasa dan menyiratkan sampean sudah punya solusinya.
Karena tahukah kita bahwa dulu ibu kita sering berpura – pura bilang sudah makan agar kita lahap dan menghabiskan makanan? Tahukah sampean ayah kita dulu kerap mengesampingkan rasa penatnya bersedia menemani kita bermain meski baru pulang lelah bekerja ? Selayaknyalah kini giliran kita yang menyuguhkan mereka layanan kedamaian.
Upayakan agar mereka bahagia melihat kita. Tidak banyak yang mereka minta. Bukan materi atau sanjungan berlebihan. Cukup dengan kita menyajikan kehadiran, kesopanan dan keikhlasan layanan.
Tidak mungkin kita bisa melarang orangtua memikirkan keadaan kita saat mereka tahu kita belum sukses atau bahagia. Jangan biarkan mereka menderita di masa tua hanya karena memikirkan keluarga dan situasi ekonomi kita. Apalagi saat mereka sadar tidak bisa berbuat banyak untuk kita.
Buat orangtua, itu siksaan batin. Kurang ajar dan durhakanya sebagian manusia, yang alih alih membahagiakan, malah ngrecoki orangtua dengan meminta warisan saat orangtua masih hidup. Sebagian lagi tega membiarkan orangtua hidup sendiri sebatang kara, sementara dia hidup bersama keluarganya. Sadarkah kamu darah dagingmu dari air susu dan keringat mereka. Jiwa ragamu dari kasih sayang dan penjagaan mereka ?
Bisa jadi saat kita meminta orangtua merawat anak kita, mereka bersedia. Mereka ikhlas. Tapi ketahuilah itu semua mereka lakukan dengan alasan yang masih sama. Memastikan kita bahagia, meski untuk itu harus mengorbankan kebahagiaan mereka. Memastikan kita tidak kerepotan, meski untuk itu mereka rela direpotkan. Itulah orangtua.
Tapi apakah karena mereka rela, lalu kita bisa seenaknya merenggut masa – masa istirahat senja mereka? Tidak! Bahkan jika merawat anak kita yang notabene cucu mereka itu adalah permintaan dan kebahagiaan mereka, tetap saja bukan pada tempatnya. Karena mereka bukan babu (pembantu) kita.
Alih – alih membiarkan ortu kerepotan dengan anak kita, justru kitalah yang memiliki kewajiban merawat mereka. Muliakan orangtuamu, mulia hidupmu. Sepakat ?
“Dan Tuhanmu telah memerintahkan agar kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah berbuat baik kepada ibu bapak. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua – duanya sampai berusia lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali – kali janganlah engkau mengatakan kepada keduanya perkataan “ah”, dan janganlah engkau membentak keduanya, serta ucapkanlah kepada keduanya perkataan yang baik.” Qs. 17:23
Salam semangat..!! Bismillah..
Penulis adalah : Putra dari Bapak Guru MA Muchtar, Pendiri Ponpes SPMAA Kabupaten Lamongan, Jawa Timur.