Suaraairlangga.com, Bojonegoro – Pada Senin (11/12/2017), Program Sekolah Lapang Pertanian (SLP) Ke- 2 hasil kerjasama Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (LPPM) Universitas Bojonegoro (Unigoro) dengan ExxonMobil Cepu Limited (EMCL) telah resmi dibuka, di Pendopo Kecamatan Gayam, Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur.
Acara yang dihadiri Ketua Yayasan Suyitno Bojonegoro (YSB) – Unigoro sekaligus Manager Program SLP, Mas Arief Januarso, Supervisor EMCL, Ichwan Arifin, Perwakilan Camat Gayam, dan UPT Pertanian Gayam ini, diikuti 100 peserta SLP yang terdiri 20 petani dan 5 Pemuda Taruna Tani dari 4 Desa Se- Kecamatan Gayam, meliputi Desa Gayam, Desa Mojodelik, Desa Bonorejo dan Desa Brabowan.
Dalam sambutanya, Supervisor EMCL, Ichwan Arifin menyampaikan bahwa program ini untuk merespon aspirasi dari berbagai fihak. Harapannya, meski EMCL yang tugas utamanya mengelola migas namun EMCL juga dapat memberi manfaat dalam bidang pertanian yang menjadi mata pencaharian utama masyarakat sekitar lapangan minyak Banyu Urip.
“SLP Ke- 2 yang dilaksanakan LPPM Unigoro ini, merupakan kelanjutan Program Pilot Project SLP Ke- 1 yang kami nilai sukses pelaksanaan pada 13 Desember 2016 – 31 Juli 2017 lalu terhadap 10 petani dari Desa Gayam, Desa Mojodelik, dan Desa Bonorejo. Adapun keberhasilannya yakni mampu meningkatkan hasil panen padi mencapai 10.5 persen,” ujar Ichwan.
Ditambahkannya, dengan keberhasilan SLP Ke- 1 tersebut maka pada SLP Ke- 2 ini pesertanya ditingkatan menjadi 100 peserta, bahkan melibatkan Pemuda Taruna Tani yang akan dilatih untuk mendalami bidang pertanian. Dan tujuan pelibatan pemuda ini untuk membentuk regenerasi petani muda dalam mewujudkan Bojonegoro sebagai lumbung pangan.
Masih dalam kesempatan ini, Manager Program SLP sekaligus Ketua YSB – Unigoro, Mas Arief Januarso berterima kasih kepada EMCL yang mempercayai Unigoro untuk melaksanakan SLP Ke- 2 ini. Selain itu, Unigoro mengapresiasi EMCL yang turut meningkatkan pengetahuan petani dalam bidang pertanian berkelanjutan, sehingga diharapkan hasil pertanian dan kesejahteraan petani bisa meningkat.
“Tujuan SLP ini untuk menjadikan petani cerdas. Adapun petani cerdas itu bagaimana bisa menekan biaya produksi namun hasil produksinya meningkat. Untuk itu, kepada para peserta SLP Ke- 2 ini saya minta data sebenarnya dari hasil produksi padinya pasca mengikuti SLP selama 6 bulan dari Desember 2017 – Mei 2018,” pinta Mas Arief.

Diungkapnya, bahkan untuk mendapatkan data sebenarnya dari SLP Ke- 2 yang berupa penyuluhan dan pelatihan serta subsidi hal – hal penting dalam penanaman padi nanti, maka Unigoro akan membuka sawah sendiri sebagai data pembanding, sehingga akurasi data dari hasil SLP Ke- 2 benar – benar valid.
“Untuk mewujudkan Bojonegoro sebagai lumbung pangan, maka kemajuan pertanian di Bojonegoro harus didukung dengan program yang serius dan tersistematis seperti SLP ini. Yang mana rencana kegiatan SLP Ke- 2 ini akan mengadakan kunjungan lapang, Petani dan Taruna Tani akan diajak belajar ke Desa Lain yang memiliki pertanian yang lebih maju,” tandas Mas Arief.
Disampaikannya pula, drinya mengapresiasi pelibatan 20 Pemuda Taruna Tani dalam SLP Ke- 2 ini. Menurutnya, generasi muda harus cinta terhadap pertanian, karena jika pertanian tidak ada penerusnya maka kita semua akan mengalami krisis pangan. Kemudian yang terpenting melalui SLP diharapkan terjadi harmonisasi antara EMCL dengan para petani.
Dijelaskannya juga, dalam SLP nantinya fokusnya peningkatan kapasitas Sumber Daya Manusianya. Mulai Penyuluhan persiapan penanaman (Tips memilih benih, Metode seleksi benih, Persiapan lahan, dan Pembibitan alternatif). Lalu Perawatan (Pemupukan, Pemberian nutrisi Darsan, Pengendalian hama), kemudian Resi Gudang, Asuransi panen, dan Pinjaman modal petani. Serta pelatihan Pembuatan dapog, Pembuatan booster padi, Pembuatan pupuk organik, juga Pembuatan biopori sawah.
“Selain kegiatan untuk petani, kami mengadakan juga kegiatan untuk pemuda tani. Yakni Penguatan kelembagaan taruna tani, Pengenalan dasar – dasar pertanian, Motivasi petani muda, Hidroponik, Optalisasi pekarangan, Adopsi Introduce species, Usaha pertanian produksi, dan Pemanfaatan limbah peternakan untuk pupuk organik, serta Pengelolaan websitenya,” jelas Mas Arief selaku Manager Program SLP.
Sementara dalam kesempatan yang sama, Kepala LPPM Unigoro, Laily Agustina menyampaikan solusi permasalahan suplai air untuk lahan pertanian di Kecamatan Gayam yang tadah hujan, diantaranya dengan pembuatan biopori sawah. Bahkan LPPM Unigoro menginisiasi terbentuknya HIPPA sebagai kelompok yang siap mencari solusi air.
“Salah satu kunci keberhasilan pertanian adalah dengan ketercukupan suplai air untuk lahan pertanian di Kecamatan Gayam. Karenanya, selain tadah hujan, kami akan melatih pembuatan biopori sawah kepada para peserta SLP. Syukur – syukur kedepannya bukan hanya embung, namun di Kecamatan Gayam ini bisa dibangun waduk untuk mengairi lahan pertaniannya,” papar Laily Agustina seraya berharap.
Untuk diketahui, pada SLP Ke- 1, hasil produksi padi dari lahan pertanian peserta SLP setelah diolah dengan Nutrisi Darsan bisa meningkat hasil panen padinya menjadi 126.5 Kg/Lahan pada panen ke- 1, dan panen ke- 2 sebesar 120.6 Kg/Lahan. Dari hasil panen ke- 1 tahun 2016 sebelum digelarnya SLP Ke- 1, panennya hanya mendapatkan 114.5 Kg/Lahan. *[JP]